You are here

Home » News and Views » Rangkaian KAMPANYE 16 HARI ANTI KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN

Rangkaian KAMPANYE 16 HARI ANTI KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN

Publication Date: 
December 7, 2011

Pengantar:

Betapa indahnya hidup kita sebagai perempuan jika berjalan tengah malam mengenakan fasilitas publik tanpa ancaman diperkosa. Betapa nyamannya keseharian kita mengenakan apapun juga tanpa takut diadili dengan siapapun.  Betapa surganya setiap waktu kita jika kita dapat melakukan secara merdeka tentu tanpa mengganggu orang lain. Namun barisan kalimat di atas hanya terus menjadi khayalan selama was-was terus ada.

Ibu Kirana[1] misalnya, merasa cemas karena pekerjaannya sebagai karyawati hotel menuntutnya harus pulang malam. Rumahnya yang berdomisili di Tangerang telah masuk sebagai wilayah cakupan Perda No. 8 Tahun 2005 Tentang Antipelacuran. Akibat perda ini, ia pernah mengurus surat keterangan bekerja yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Namun rasa was-was Ibu Kirana tidak berhenti berkecamuk. Kasus lain dialami oleh Gita[2] yang menjadi ketakutan menggunakan angkutan kota (angkot) ketika kembali dari kuliah malamnya. Ia tanpa pilihan. Sebagai mahasiswa ekstensi universitas swasta di Depok, taksi dan ojek (yang juga belum tentu aman) sangatlah mahal. Gita mau tak mau harus naik angkot. Beda lagi dengan Fitri[3], yang harus merasa risih dengan tatapan nakal kumpulan pemuda di stasiun kereta. Kegemarannya dalam berpakaian yang terbuka menjadi bulan-bulanan bagi masyarakat stasiun. Gayanya yang ekspresif itu menurutnya menawarkan kenyamanan. Ia gampang sekali mengeluarkan keringat dan keringat akan berproduksi dua kali lipat jika pakaiannya tertutup. Namun orang lain tidak menanyakannya alasan ia berpakaian, namun memberinya ketidaknyamanan dalam bergerak. Seperti menghakiminya atau bahkan mencibirnya.

Persoalan di atas tidak pernah lekang dari keseharian perempuan. Was-was yang dialami oleh perempuan tidak lepas dari pembiaran terhadap praktik kekerasan terhadap perempuan. Hal yang paling menyakitkan adalah perempuan tidak nyaman dengan tubuhnya sendiri. Belum lagi ketidakpercayaan keluarga terhadap negara menyebabkan nilai-nilai patriarkis atas nama perlindungan semakin ditegakkan. Tindakan keluarga yang melarang anak perempuannya untuk keluar malam, berbanding terbalik dengan keleluasaan yang diperoleh anak laki-lakinya yang keluar kapansaja ia suka. Ketidakpercayaan ini berbuntut konsekuensi ganda dalam mobilitas perempuan. Was-was di luar rumah dan juga di dalam rumah.

Perubahan struktur hukum atau reformasi kepolisian di negara ini hanya sekelumit berita bahagia yang tidak berdampak apa-apa dalam kehidupan perempuan. Pembiaran terhadap kelompok preman yang terus berkembangbiak dalam sarana-sarana fasilitas publik, kelompok kekerasan yang mengatasnamakan agama dan melegitimasi tindakan kekerasan sebagai bagian dari ajaran, cara pandang sempit aparat hukum melihat perempuan, serta nilai keluarga yang tidak menjadikan perempuan sebagai entitas manusia seutuhnya merupakan faktor di balik mengapa rasa was-was terus terjadi.  Was-was seolah-olah terus diciptakan agar perempuan takut dan dalam intimidasi maupun ancaman. Pembiaran was-was perempuan merupakan efek psikologis yang menjadi sarana kepentingan orang lain. Negara tidak perlu lagi repot memikirkan keamanan bagi perempuan. Negara tidak rumit lagi memikirkan aturan yang melindungi perempuan di ruang publik. Negara tidak kesusahan lagi membuat regulasi dan akses secara setara bagi perempuan. Perempuan dengan rasa was-wasnya dianggap sebagai warga negara kelas dua.  Pola pikir ini yang kemudian dibahasakan melalui produk kebijakan yang membatasi ruang gerak perempuan. Belum lagi persoalan stigmatisasi terhadap perempuan yang semakin meningkatkan rasa ketidaknyamanan dan ketidakpercayaan perempuan. 

Lilis sebagai korban salah tangkap di Tangerang hingga meninggal dunia karena depresi berat dan RS sebagai korban perkosaan di angkot D-02 Jurusan Ciputat-Pondok Labu hingga kini mengalami trauma merupakan sebagian kecil dari contoh kasus kekerasan terhadap perempuan yang terdokumentasi melalui hukum dan media. Banyak tindak kekerasan terhadap perempuan lain yang dibungkam, didiamkan, dan dibiarkan tanpa ada penanganan.

Kekerasan terhadap perempuan di kalangan mahasiswa juga tidak kalah marak terjadi di dalam konteks baik dari ranah keluarga, pergaulan, lingkungan kuliah, maupun lingkungan lainnya. Relasi antara laki-laki dan perempuan yang tidak setara dan tidak berkeadilan menjadikan hubungan pertemanan hingga dalam ranah berpacaran menjadikan perempuan potensi atau rentan kekerasan. Dari FGD yang telah diselenggarakan di antara mahasiswa, terdapat temuan bahwa kekerasan terhadap perempuan juga terjadi di lingkungan kampus. Antara lain, kekerasan verbal dari obrolan-obrolan kumpulan laki-laki yang membicarakan dan mengeksploitasi tubuh perempuan maupun ancaman kekerasan seksual yang seringkali dihadapi oleh mahasiswa perempuan.

Solidaritas Perempuan merupakan Organisasi Perempuan yang konsern pada hak-hak perempuan saat ini sedang menyelenggarakan gelar kampanye Menjadi Perempuan Tanpa Rasa Was-was untuk memperingati 16 hari Anti kekerasan terhadap perempuan. Kampanye kali ini melibatkan antusiasme mahasiswa untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan baik di lingkungan kampus maupun di lingkungan sekitarnya. Solidaritas Perempuan mengakomodir kebutuhan mahasiswa sebagai agen perubahan tersebut untuk terus mengkampanyekan nilai-nilai anti kekerasan di lingkungan kampus. Kampanye yang melibatkan mahasiswa ini juga aktif berjejaring pada kelompok-kelompok diskusi pengetahuan dan aktif menggunakan teknologi dalam jaringan sosialnya penting menjadi salah satu strategi perubahan paradigma secara komprehensif.

GELAR KAMPANYE

  1. PARADE SEPEDA DALAM CAR FREE DAY! tanggal 27 November 2011 di Jakarta. Aksi ini membuka rangkaian kampanye Menjadi Perempuan Tanpa Rasa Was-was Dengan Hutang. Aksi yang sama akan berlangsung juga di seluruh Indonesia seperti di Aceh, Kendari, Makasar selama kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan
  2. Rilis dan Media Briefing Sunat Perempuan Sebagai Pelanggaran HAM sebagai bagian dari kampanye untuk mengundang media berpartisipasi dalam publik tanggal 29 November 2011
  3. Penyebaran Leaflet 1 lembar Kampanye Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang disebarkan melalui forum-forum yang diselenggarakan di atas dan forum lainnya selama kampanye berlangsung
  4. Flash mob International We Can Day tanggal 30 November 2011. Acara ini mengundang publik dan mahasiswa untuk bergoyang bersama tubuh dan menghentikan kekerasan terhadap perempuan. Acara ini berlangsung di Blok M Square
  5. Student Speak Out To Stop Violence Against Women and Radio talkshow tanggal 1 Desember 2011 di RTC UI FM dengan menampilkan sosok mahasiswa yang dapat berbagi dengan komunitas radio tersebut mengenai pentingnya pluralisme dan pemahaman tentang kekerasan terhadap perempuan atas nama agama.
  6. Diskusi Seksualitas dan Islam. Merupakan Bedah Makalah Ziba Mir-Hosseini mengenai Memidanakan Tubuh di lingkungan kampus yang menjadi forum bagi masyarakat kampus untuk membahas tubuh perempuan dalam konteks Indonesia dengan pikiran terbuka dan berperspektif hak asasi perempuan. Rencananya, dalam penyelenggaraannya diskusi ini bekerja sama dengan Pusat Kajian Gender dan Seksualitas FISIP UI. Diskusi ini juga menyertakan perspektif Islam dan perempuan bersama Neng Dara Affiah (Komnas Perempuan) atau Nur Iman Subono (Pusat Kajian Gender dan Seksualitas UI). Diskusi ini bertempat di FISIP UI dan diselenggarakan tanggal 8 Desember sejak pukul 13.00 – 16.00.
  7. Nonton Film Bareng The Day I Became Women[4] di Kantor Solidaritas Perempuan yang dapat menjadi diskusi informasi di tingkat mahasiswa mengenai pengalaman dan pengetahuan mereka mengenai tubuh perempuan. Diskusi ini akan mengundang Irwan M. Hidayana[5] (Pusat Kajian Gender dan Seksualitas FISIP UI) dan Valentina Sagala (Institut Perempuan)[6]
  8. Kampanye Media Sosial melalui facebook, twitter, dan blog menggunakan hasgtag #CVAW.

 

Gelar kampanye di atas berlangsung atas kerjasama Solidaritas Perempuan, Himpunan Mahasiswa Antropologi FISIP UI, Pusat Kajian Gender dan Seksualitas FISIP UI, We Can International, RTC UI FM (Radio Mahasiswa) dan mohon dukungan dari kawan-kawan jaringan Violence is not Our Culture. Selamat hari anti kekerasan terhadap perempuan!




[1] Bukan nama sebenarnya

[2] Bukan nama sebenarnya

[3] Bukan nama sebenarnya

[4] bekerjasama dengan Puan Pandhita

[5] No. kontak: irwan@ui.edu/08128115994/Twitter: irwan_emha

[6] R. Valentina Sagala, INSTITUT PEREMPUAN - WOMEN'S INSTITUTE
Cellular. +62.816.486.5241, Email: val77ina@yahoo.cominstitut_perempuan@yahoo.com